Kamis
Di Sudut Indonesia Pertiwi Memanggil Pemuda ( I )
(Soekarno)
Lembar-lembar sejarah punya ceritanya.Dalam rangkaian kata,fakta coba di gambarkan hingga mampu menjadi pelintas bagi generasi selanjutnya,yang akan kembali menjadi sejarah. Setiap bangsa dari zaman batu hingga zaman moderen mempunyai ukiran cerita yang menjadikannya abadi, untuk dinikmati, dipelajari,atau sekedar di pelototi. Sejarah sebagai bentuk sastra karena unsur ceritanya, tidak lepas dari penilaian-penilaian yang ditafsirkan sesuai dengan pengalaman pembacanya, bahkan bisa juga sebagai alat penjaga kekuasaan. Selain itu pula, hamparan hikmah dapat disemai dari luasnya ladang ladang sejarah.
Indonesia adalah bangsa yang cukup uzur dengan usianya 64 tahun tentunya sudah banyak ladang sejarah yang dikandungnya dan selalu siap disemai hikmahnya, namun hamparan sejarah itu dibiarkan lapuk begitu saja. Mencoba mengambil sebutir hikmah dari berbagai ladang sejarah negara ini, dari bagian terpenting yang seharusnya tak boleh terabaikan apalagi terlupakan.
Budi Utomo, organisasi yang mencuat dari pikiran dr. Wahidin Sudirohusodo, yang frustasi melihat kondisi bangsa Indonesia yang selalu bernasib buruk dan dianggap rendah dan tidak bermartabat oleh bangsa lain, selain itu perilaku para pejabat saat itu yang hanya memikirkan diri mereka sendiri dan jabatan mereka saja semakin memperparah keadaan bangsa saat itu.Seperti menarik pajak setinggi-tinginya dari petani pribumi. Bertolak dari keprihatinan itu, dr. Wahidin coba merumuskan gagasannya untuk memperbaiki itu dengan memajukan pendidikan, termasuk mencari dana pelajar bagi mahasiswa yang tidak mampu kepada tokoh-tokoh masyarakat di tanah jawa namun sayangnya tokoh-tokoh masyarakat tidak menghiraukan gagasan tersebut. DR. wahidin tidak menyerah dengan terus menyebarkan gagasan-gagasannya, hingga ia menemukan sekelompok pemuda di sekolah kedokteran STOVIA yang sangat bergairah menerima gagasan itu, dengan mendirikan organisasi bernama BUDI UTOMO pada 20 Mei 1908.
Dari sinilah kemudian batu tapal perjuangan Indonesia menemukan pijakannya, menyusul kemudian organisasi-organisasi serupa yang bergerak dalam pendidikan, perdagangan, bahkan politik. Dalam lembar sejarah itu, nama-nama banyak di isi oleh mereka yang berusia muda. Soekarno pendiri PNI ( 26 tahun ), Tan Malaka memimpin PKI ( 29 tahun ) Kartosuwirjo aktif di SI ( 28 tahun ) Semaun aktif di SI ( 14 tahun ). Maka jiwa-jiwa yang berkobar penuh visi perubahan itu terus melaju hingga tercapainya kemerdekaan Indonesia dari kolonial.
Menyaksikan kondisi kebangsaan saat ini, maka nasib Indonesia saat ini tidak jauh memprihatinkan dari kondisi Indonesia pada tahun 1900-an. Kondisi rakyat masih sangat melarat, pejabat-pejabat banyak yang mementingkan kepentingan diri dan habatannya, menaikan harga-harga, memanipulasi pasar-pasar demi membuat senang atasan negara-negara kapitalis-neoliberalis. Belum lagai pendidikan yang amat susah diakses oleh kalangan tak berduit.
Kondisi bangsa telah berulang, sisa peran yang harus di mainkan. Siapakah dr. Wahidin selanjutnya ? siapakah pemuda-pemuda STOVIA berikutnya ? akankah lahir Soekarno, Tan Malaka, Kartosuwirjo, Semaun yang baru ?. Pemuda tahun 1900-an nyaring mendengar rintihan pertiwi yang memanggil mereka,.akankah pemuda 2010 akan mendengar rintihan pertiwi juga ?.
Maka sebelum waktu merenggus usia, semasih gagasan menggebu dasyat, dan masa esok terlukis jelas,mari menyahut panggilan pertiwi, "kami pemuda lahir untuk menjawabmu bunda"...
"Memperingati Hari Kebangkitan Nasional,
Tak ada mata yang terpejam
Langkah yang terhenti
Lengan yang terkulai
Fikir yang membeku
Sebelum Pertiwi Terbahak senang"
Rabu
Kisruh dualisme NDP dalam Tubuh HmI (2)
Benarkah permasalahan adanya dualism versi NDP ini tak bisa diselesaikan? Mari kita mencoba melihat ke belakang, terkait latar belakang penyusunan dua versi NDP ini. NDP yang disusun oleh Nurkholish Madjid (mantan ketua umum PB HmI dua periode) berangkat dari kegalauan beliau akan tidak adanya konsep seragam yang baku dan representative untuk digunakan dalam semua pengkaderan HmI. Kegelisahan ini memuncak setelah Nurkholish Madjid (Cak Nur) melakukan kunjungan ke Amerika dan Negara-negara islam di timur tengah pada penghujung tahun 60-an. Dalam perjalanannya itu, Cak Nur melihat bahwa ajaran-ajaran dan praktek-praktek keberagamaan islam di seluruh penjuru dunia ternyata sangat beragam satu sama lain. Oleh karena itu, sepulangnya ke Indonesia Cak Nur merasa bahwa inti-inti ajaran agama islam yang harusnya menjadi dasar bagi seluruh gerak langkah umat islam perlu disarikan ke dalam sebuah format resmi agar bisa diajarkan secara sistematis dalam kegiatan-kegiatan pengkaderan HmI. Karena hal inilah, cak Nur hampir menamai NDP ini dengan nama Nilai-nilai dasar Islam, namun karena takut jika nantinya NDP ini di kemudian hari menjadi tafsir tungggal atas ajaran islam, maka Cak Nur menyebutnya sebagai Nilai dasar perjuangan saja.
Puluhan tahun setelah Nilai dasar perjuangan ini dipakemkan, seiring dengan perkembangan tantangan zaman, muncullah banyak keluhan dari hampir semua daerah di Indonesia bahwa banyak hal-hal baru yang tak mampu lagi dijawab oleh NDP lama ini. Di berbagai cabang, penafsiran kader dan metode penyampaian NDP sudah berbeda-beda, di Badko Jabar dan sekitarnya msialnya, dikenal adanya metode revolusi Kesadaran, di Badko Sulselrabar dikenal adanya dialog Kebenaran, dan berbagai metode penyampaian NDP lainnya. Di berbagai daerah juga muncul keluhan bahwa NDP lama sudah susah dimengerti oleh kader HmI.
Memang, jika kita lihat, usia NDP lama yang telah 40 tahun digunakan dalam kegiatan pengkaderan HmI merupakan usia yang telah cukup lama dan meniscayakan dibutuhkannya perbaikan dan rekonstruksi. Beberapa kader bahkan berkelakar bahwa NDP ini kadang-kadang diperlakukan seperti Al-Quran buruk: dibaca enggan karena tidak paham, tapi kalau dibuang juga takut kualat. Cak Nur sendiri juga pernah mengakui bahwa ekspektasinya sewaktu menyusun NDP pertama kali ialah bahwa NDP yang disusunnya itu bisa digunakan dalam waktu dua puluh tahun, sementara sekarang usia NDP sudah empat puluh tahun.
Jadi, pada dasarnya perbaikan dan rekonstruksi NDP memang merupakan hal yang rasional dan wajar dilakukan, apalagi bagi organisasi seperti HmI yang terkenal akan kultur intelektual dan dinamisnya. Namun letak masalahnya adalah sikap kekanak-kanakan kitadalam mempertahankan NDP yang kita gunakan masing-masing.
Jika saya perhatikan, letak penolakan orang-orang yang menggunakan NDP lama terhadap NDP baru disebabkan karena dua issu besar. Pertama, karena faktor legalitas proses penyusunannya yang tidak konstitusional dan yang kedua adalah karena isi materinya yang katanya lebih condong ke mazhab tertentu.
Factor legalitas ini banyak dipertanyakan karena keabsahan tim delapan yang merupakan penyususn resmi NDP baru tidak pernah disahkan secara resmi oleh PB, apalagi kemudian terungkap bahwa penyusunan NDP ini lebih banyak merupakan pemikiran tunggal Arianto Ahmad (seorang kader HmI dar cabang Makassar). Bagi saya penolakan NDP karena proses penyusunannya ini merupakan hal yang lucu. Harusnya, sebagai seorang kader HmI yang selalu mengaku mengedepankan rasionalitas dan berpikiran terbuka, permasalahan tentang abash atau tidaknya tim penyusun ini tak perlu dibesar-besarkan. Siapapun yang menyusun NDP ini selama sesuai dengan rasionalitas dan Alquran/sunnah maka ia wajib diterima. Tak peduli mau ditulis oleh tukang becak, sopirpete-pete, ataupun seorang professor selama ia sesuai dengan kebenaran maka wajib hukumnya kita terima.
Penolakan terhadap NDP baru karena terlihat lebih condong ke mazhab pemikiran tertentu dalam islam pun sebenarnya sangat aneh, karena sepanjang yang saya tahu NDP tak pernah berbicara tentang mazhab. Perbedaan mazhab adalah perbedaan tafsiran manusia di wilayah syariat, sedangkan NDP tak membahas tentang syariat. Kalaupun beberapa pemikiran dalam NDP baru, serta penyusun-penyusunnya dikatakan lebih dekat dengan mazhab-mazhab tertentu dalam islam, bukankah kita selama ini meyakini bahwa pendapat dari mazhab apapun, selama tidak bertentangan dengan rasionalitas dan Alquran/Sunnah maka wajib kita terima? Cak Nur sendiri, orang yang menyusun NDP lama, di masa hidupnya banyak ditolak pemikirannya karena dituduh berpikiran sekuler dan kebarat-baratan. Toh tuduhan itu tidak menjadikan kita menolak sosok Cak Nur dan pemikiran-pemikirannya.
Lalu benarkah NDP ini tak bisa dipertemukan. Jawabannya, iya, jika masih tetap mempertahankan sikap arogansi intelektual kita, jika semua orang masih merasa terlalu hebat dan pintar untuk menurunkan ego.
Pada dasarnya, perbedaaan antara NDP lama serta NDP baru terletak dalam sistematika penyusunan dan pendekatannya dalam menemukan kebenaran. konten-konten materi teologis (yang terdiri dari bab I hingga bab IV) dalam NDP baru banyak dipengaruhi oleh cara berpikir metafisika islam yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir islam kontemporer, beberapa di antara pemikir-pemikir tersebut seperti Muhammad Baqir Al Shadr dan Mulla Shadra (yang banyak terlihat dalam bagian-bagian teologis NDP baru) serta Ali syariati (yang banyak dijadikan referensi pemikiran dalam aspek sosiologis NDP baru). Karena pentingnya pemahaman metafisika Islam dalam bagian teologis NDP baru, makanya dalam NDP baru ditambahkan bab logika dan kerangka berpikir.
Dalam NDP baru, diajarkan bahwa keyakinan mestilah bersumber dari pengetahuan yang rasional. Karena itu dalam bab-bab awal NDP baru diajarkan bagaimana menemukan kebenaran rasional hingga sampai pada pembuktian kebenaran ajaran Islam. Sedangkan dalam NDP lama sendiri, tidaklah banyak membahas tentang metode rasional dalam membuktikan kebenaran ajaran Islam, tapi hanya menyarikan inti ajaran-ajarannya saja. Sedangkan pada wilayah Antropo-sosiologis (bab V sampai bab VIII), NDP lama tidak banayk berbeda dengan NDP baru.
Menemukan titik temu dalam materi NDP ini sebenarnya bukanlah hal yang sulit jika semua kader mulai dari tingkatan komisariat hingga tingkatan PB mau berniat baik menurunkan ego demi perbaikan HmI ke depan. Perdebatan tentang NDP ini jika dibiarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan perpecahan di internalHmI dan tentu saja yang akan menjadi korban adalah adik-adik di bawah. Bukankah tantangan hari ini semakin berat dan rumit, yang membutuhkan waktu dan tenaga kita? jika kita masih saja terus berdebat di wilayah NDP ini, maka kita akan dilindas oleh perubahan zaman.
Kisruh Dualisme NDP dalam Tubuh HmI (1)
Perdebatan tentang NDP mana yang digunakan dalam kegiatan-kegaiatan pengkaderan HmI ini berlangsung alot dan berlarut-larut dalam dua tahun belakangan. Mulai dari perdebatan warung kopi ala anak-anak HmI, menjadi bahan diskusi di forum-forum basic training hingga menjadi wacana panas yang bergulir pra-kongres.
Memang perbedaan pandangan dan pendapat dalam tradisi HmI bukanlah hal yang tabu dan janggal, bahkan budaya pluralitas dan perbedaan pandangan ini sendiri merupakan sebuah ciri khas sendiri bagi puluhan tahun pengalaman hidup HMI. Namun saya melihat bahwa ada yang salah dalam perdebatan tentang dualisme NDP di tubuh HmI selama ini. Perdebatan tentang NDP yang saya lihat cenderung mengarah pada perdebatan yang tidak substantif. Mengapa saya katakan tidak substantif, karena argumentasi-argumentasi yang sering muncul dalam perdebatan NDP bukanlah argumentasi yang menjelaskan tentang materi NDP yang berusaha dipertahankan oleh masing-masing pihak, melainkan argumentasi yang berusaha menyerang kelemahan NDP lain. Parahnya, saya melihat ada kecenderungan bahwa yang diserang dari NDP lain itu bukanlah isi NDP nya melainkan proses penyusunan NDP nya.
Coba kita perhatikan, Pihak yang mendukung NDP lama menyerang NDP baru karena proses penyusunannya yang katanya sangat tidak konstitusional, karena legalitas tim 8 sebagai penyusun naskah NDP tidak pernah diakui, Selain itu tim penyusunnya waktu itu dipengaruhi oleh pemikiran tunggal Arianto Ahmad yang disebut-sebaut sebagai pencetus ide NDP baru. Jika anda pernah membaca laporan hasil kerja tim sembilan (tim yang dibentuk oleh Pengurus Besar HmI untuk memverivikasi keabsahan NDP) serta naskah NDP yang dikirim ke seluruh cabang, maka kita bisa melihat bahwa argumentasi diberikan oleh Pengurus Besar (PB) HmI (yang belakangan menyatakan kembali ke NDP lama versi Cak Nur) merupakan penghakiman-penghakiman atas proses penyusunannya.
Di lain pihak, para pendukung NDP baru juga cenderung terjebak dalam perdebatan kekanak-kanakan ini dengan menyerang pemikiran Cak Nur sewaktu penyusunan NDP lama yang katanya banyak dipengaruhi oleh perjalanannya ke Amerika dan Timur Tengah.
Kenyataan ini diperparah dengan sikap tidak dewasa yang turut dipertontonkan oleh kader-kader HmI dalam polemik NDP ini. Sikap arogan dan merasa benar sendiri merupakan hal yang lumrah kita temui dalam perdebatan-perdebatan tentang NDP. Beberapa forum ilmiah yang harusnya bisa menjadi tempat dialog dan mempertemukan pendapat, berakhir tanpa menghasilkan apa-apa karena masing-masing pihak tidak dewasa dalam memandang permasalahan ini. Tokoh-tokoh dan sesepuh HmI yang harusnya bisa menunjukkan sikap dewasa dalam perdebatan ini juga malah ikut-ikutan menunjukkan arogansi intelektualnya, bahkan dalam beberapa hal menunjukkan taqlid buta dan pengagungan berlebihan terhadap Cak Nur.
Harusnya, perdebatan-perdebatan tentang NDP ini tidak dibawa ke perdebatan kusir yang tak kunjung usai melainkan dibawa ke forum-forum yang ilmah. Tapi tentu saja, menyediakan forum ilmiah juga tak akan pernah menyelesaikan masalah jika tak dibarengi dengan kedewasaan kader HmI dalam memandang persoalan ini. Bagi yang mendukung NDP lama versi kongres Makassar, silahkan ajukan rasionalisasi di forum ini secara ilmiah, jangan menutup diri terhadap perubahan, bukankah Cak Nur sendiri pernah bilang bahwa NDP hanyalah tafsiran beliau terhadap ajaran agama Islam yang selalu terbuka untuk dikritik dan diperbaiki. Yang mendukung NDP baru juga silahkan ajukan argumentasi dan berhenti memojokkan Cak Nur. Semua pihak juga harus berupaya persoalan NDP ini tidak dibawa ke ranah-ranah politis. Bagi para senior-senior HmI, juga harus menunjukkan kebijaksanaan dan keluasan cara berpikir, karena arogansi intelektual hanya akan membuat kita ditertawakan. Bukankah selama ini kader-kader HmI selalu mengklaim diri sebagai manusia-manusia intelektual, yang selalu bepikir inklusif dan dinamis?
Terakhir, saya ingin menyitir pendapat salah seorang pengurus PB HmI (saya lupa namanya) terkait dengan dualisme NDP ini. Beliau bilang, Jika kita ingin menyelesaikan masalah NDP ini secara serius, singkirkan NDP Cak Nur, singkirkan NDP Makassar, mari susun NDP baru. Mari melangkah maju, jangan mundur ke belekang.
Senin
BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS


Assalaamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Mencari dan memperoleh ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah kebutuhan para kaum terdidik dan terpelajar. Disadari atau tidak, hal tersebut telah menjadi hak dan kewajiban yang mendasar bagi mereka yang menggunakan akal pikirannya. Membaca dan menulis adalah metode yang digunakan bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, mengeja atau melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, mengetahui, menduga, meramalkan ataupun memperhatikan. Sedangkan menulis adalah membuat huruf atau angka (dsb) dengan pena (dsb), melahirkan pikiran dan perasaan melalui media tulis.
Tanpa terlepas dari pendefinisian yang dilakukan oleh tim penyusun KBBI saya bisa memberikan batasan terhadap apa arti dari membaca dan menulis. Membaca adalah proses memahami dan pengkajian terhadap simbol-simbol ataupun susunan simbol-simbol tersebut, memahami segala apa yang ditangkap oleh panca indra sehingga segala sesuatu itu dapat diberi makna oleh para pelaku baca (pembaca). Menulis adalah menguraikan sebagian dari hal yang ditangkap oleh panca indra dan dipahami oleh akal pikiran dan perasaan manusia melalui simbol-simbol yang telah diketahui oleh pembaca pada media tulis.
Membaca dan menulis adalah bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan manusia. Membaca menitikberatkan dirinya sebagai proses pencarian ilmu pengetahuan sedangkan menulis menitikberatkan dirinya kepada proses menyalurkan ilmu pengetahuan. Kedua hal tersebut akan selalu menjadi kegiatan yang berkesinambungan dilakukan oleh kaum terdidik dan terpelajar.
Kedua hal tersebut sedari dini harus dilaksanakan oleh para kaum terpelajar agar tidak kehilangan identitas diri sebagai para pemikir. Membaca dan menulis sudah pasti menjadi rutinitas harian para kaum terpelajar dimanapun mereka berada.
Perintah pertama dari Allah SWT kepada Rasulullah saw adalah “Iqra” yang berarti “bacalah” dan kemudian turun ayat-ayat selanjutnya. Hal ini kemudian disampaikan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Rasul. Sahabat Rasulullah kemudian menyadari bahwa perlunya menuliskan firman Allah yang disampaikan melalui Rasulullah saw agar tidak hilang seiring wafatnya Rasulullah saw serta para penghafal Al Quran dan agar firman Allah SWT tidak bercampur dengan Hadits.
Membaca dan menulis adalah kegiatan yang mulia jika ditujukan untuk kemuliaan. Oleh karena itu saya mengaharap kepada saudara-saudaraku sekalian untuk menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai kebudayaan kita. Dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstrukrif demi meningkatkan pemahaman saya dan saudara sekalian tentang kegiatan membaca dan menulis.
Sekian dari penulis
Wassalam. YAKUSA
Nur Ulul Amran
Rabu
Liburan Semester
Iman Ilmu Amal padu Mengabdi
Yakin Usaha Sampai
Agenda
1. Pengajian HmI Komisariat FK Unhas
2. Baksos Kota HmI Komisariat FK Unhas
3. BASTRA LXXX
Insya Allah akan diadakan:
1. Pengajian dan Follow Up
2. BASTRA LXXXI
Tentang Film Avatar
Film Avatar yang dirilis pada Desember 2009 bisa dibilang mendapat sam
butan yang tinggi dari para pecinta film. Dan bisa dibilang hampir setiap orang yang selesai menyasikannya membicarkan tentang imajinasi dan fantasi yang luar biasa dari si pembuat film. Harus diakui hadirnya film ini juga memberikan gambaran potensi akal manusia yang tidak terbatas sehingga mampu membentuk imajiansi dan fantasi sebagaimana yang ditayangkan dari film Avatar.Film yang bersetting di sebuah planet baru yang memiliki kehidupan yakni planet Pandora dimana didalamnya terdapat bangsa Na’vi yang merupakan penduduk asli planet tersebut. Singkat cerita, karena adanya barang tambang yang bernilai miliaran dollar pada planet itu menyebabkan invasi besar-besaran manusia keplanet tersebut dan mulai melakukan penambangan tanpa mempedulikan keberadaan bangsa Na’vi dan alam planet itu. Dan bisa dipastikan pecahlah perang antara manusia dan bangsa Na’vi.
Jika kita lihat, film ini tidak hanya mengangkat peperangan antar manusia dengan bangsa Na’vi tetapi lebih dari pada itu film ini mencoba mengangkat pertentangan dan pertarungan yang lebih substansial dan filosofis yakni pertentangan antara Antroposentrisme dan Cosmosentrisme. Pada film ini manusia mewakili pandangan antroposentrisme dan bangsa Na’vi mewakili pandangan Cosmosentrisme. Antroposentrisme dengan gagasan utamanya adalah bahwa manusia sebagai makluk tertinggi merupakan pusat dari alam ini dan alam inipun diciptakan untuk manusia sehingga pemanfaatan alam baik secara berlebihan (eksploitasi) bukanlah suatu masalah. Antroposentrisme saat ini merupakan padangan umum yang dianut oleh sebagian besar manusia. Hal ini dikarenakan pesatnya kemajuan sains dan iptek serta hampir setiap mimpi-mimpi manusia mampu diwujudkan dengan teknologi maju sehingga setiap hal yang berhubungan dengan alam atau hal alami dianggap antitesa dari kemajuan peradaban manusia. Sementara cosmosentrisme dengan gagasan utamanya bahwa pusat dari alam ini adalah alam itu sendiri dan manusia sebagai komponen dari alam ini memiliki keterkaitan yang sangat tinggi dengan alam. Cosmosentrisme merupakan pandangan yang dianut manusia pada awal munculnya manusia dibumi namun seiring perkembangan zaman pandangan ini mulai ditinggalkan dan beralih ke antroposentrisme.
Beberapa tahun terakhir ini cosmosentrisme mulai bangkit kembali. Dimotori oleh gagasan Fritjof Capra dalam bukunya The Hidden Connection dimana gagasan utamanya adalah interkoneksitas dan paradigma holistik. Dalam pandangan Capra tentang interkoneksitas dikatakan bahwa setiap realitas yang ada khususnya problematika dalam kehiduan masyarakat baik langsung maupun tidak langsung memiliki keterkaitan atau interaksi (interkoneksitas) dan karena adanya interkoneksitas ini maka untuk mencoba memahami dan menyelesaikan problematika tersebut kita harus memiliki pola pikir yang menyeluruh (holistik) bukan pola pikir yang mekanistik. Berangkat dari kesadaran tersebut, maka antroposentrisme dan pola pikir yang mekanistik dianggap merupakan penyebab utama dari munculnya problematika global seperti global warming, kemiskinan, krisis pangan global, dan lain sebagainya.
Dan akhirnya hadirnya konsep dari film avatar ini mencoba membangun kesadaran untuk kembali kegagasan cosmosentrisme dengan pandangan interkoneksitas dan holistiknya. Juga harapan dari terbangunya paradigma tersebut bisa mempercepat penyelesaian dan perbaikan dari setiap problematika yang ada.
http://www.nasriyadinasir.co.cc/2010/02/tentang-film-avatar.html
POTRET PEMBANGUNAN KESEHATAN INDONESIA; Sebuah Refleksi Akhir Tahun 2009
Pendahuluan
Kesehatan adalah unsur vital dan merupakan elemen konstitutif dari kehidupan seseorang. Kesehatan sebagai hak asasi telah menjadi kebutuhan mendasar dan tentunya menjadi kewajiban negara dalam upaya pemenuhannya. Kesehatan juga komponen pembangunan yang memiliki nilai “investatif”, hal ini dikarenakan berbicara tentang kesehatan maka akan membicarakan juga tentang ketersediaan tenaga siap pakai dalam hal ini Sumber Daya Manusia yang sehat dan produktif tentunya. Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah.
Tak bisa kita pungkiri, pergantian tampuk pemerintahan ternyata belum memberikan nuansa baru dalam pembangunan kesehatan. Bisa dikatakan kesehatan belum menjadi isu utama dalam strategi pembangunan di Indonesia padahal kita sadari betul bahwa kesehatan juga merupakan factor penentu dalam pembangunan suatu bangsa. Lemahnya pembangunan disektor kesehatan dapat kita lihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) negara kita selalu stagnan pada kisaran 117-112 dari sekitar 175 negara, meskipun pada tahun 2008 sempat naik ke peringkat 109 tetapi pada tahun 2009 justru kembali turun pada posisi 112. Sebagai catatan, HDI adalah ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa yang dilihat dari parameter pembangunan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Ironisnya, rentetan pergantian tampuk kekuasaan selama beberapa dekade terakhir, pun tak kunjung membawa angin perubahan.
Akhir tahun 2009, dalam hal masalah kesehatan justru ditutup dengan pemberitaan pada sebuah koran lokal kota Makassar tentang meningkatnya kasus gizi buruk disalah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Hal ini tentunya sangat menyedihkan dimana Sulawesi Seletan sendiri merupakan lumbung pangan Indonesia tetapi justru bisa ditemukan kejadian seperti ini. Belum lagi melihat problem-problem kesehatan semacamnya diberbagai daerah di Indonesia tentunya semakin menguatkan pandangan kita bahwa kesehatan bangsa ini masih sangat jauh dari harapan. Dan sebuah pukulan besar bagi penyelenggara pembangunan kesehatan dalam hal ini pemerintah adalah munculnya “Fenomena Ponari”. Hal ini jelas menunjukkan kegagalan pemerintah dalam promosi kesehatan dan perilaku kesehatan masyarakat. Selain itu fenomena ini juga menunjukkan bahwa minimnya kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan diperparah dengan sulitnya mengakses pelayanan kesehatan sehingga masyarakat cenderung selalu mencari pengobatan alternatif.
Dicetuskannya “Visi Indonesia Sehat 2010” pada tahun 1999 seakan memberikan angin segar dan harapan dalam pembagunan kesehatan. Diharapakan pada tahun 2010, bangsa Indonesia akan mencapai tingkat kesehatan tertentu dengan ditandai dengan penduduknya yang;
1. Hidup dalam lingkungan yang sehat.
2. Mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat.
3. Mampu menyediakan dan memanfaatkan (menjangkau) pelayanan kesehatan yang bermutu.
4. Memiliki derajat kesehatan yang tinggi.
Selain itu secara garis besar visi ini juga memberikan gambaran bertahap tentang pembangunan kesehatan yaitu; Desa Sehat akan terwujud pada tahun 2003, kecamatan sehat pada tahun 2004, kabupaten sehat pada 2005, dan berturut-turut propinsi dan negara sehat pada tahun 2006 dan 2007. Tetapi, tanpa melihat indikator-indikator kecilnya saja secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa Visi Indonesia Sehat 2010 ini tidak tercapai.
Mencermati hal diatas, sampai pada akhir tahun 2009 ini ada beberapa problem mendasar dalam pembangunan kesehatan diantaranya;
Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan di Indonesia belum terselenggara secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) masih terlihat sangat kurang. Pemerintah selama ini hanya berkutat dan menghabiskan banyak anggaran di bidang pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif. Pemerintah ternyata masih belum beranjak dari paradigma sakit.
Kualitas pelayanan rumah sakit sebagai sarana pelayanan rujukan masih dirasakan sangat kurang. Dengan keadaan seperti ini tidak mengherankan bila derajat kesehatan masyarakat di Indonesia belum memuaskan. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi, yakni masing-masing 50/1000 kelahiran hidup. dan 373/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan umur harapan hidup masih rendah, yakni rata-rata 66,2 tahun.
Pembiayaan Kesehatan
Dalam hal pembiyaian kesehatan, negara kita sangatlah jauh dari ideal. Terget biaya kesehatan yang seharusnya 15 % per tahun 2010 dalam anggaran APBD ternyata hanya terpenuhi 5,8 % per 2008. Untuk tahun 2009 , pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pembangunan kesehatan sebesar 2,5% dari total APBN. Sungguh mengecewakan!
Keadaan ini diperparah dengan tidak meratanya anggaran kesehatan dari masing-masing daerah akibat desentralisasi. Pengalokasian dana bersumber pemerintah belum efektif. Dana pemerintah lebih banyak dialokasikan pada upaya kuratif dan sementara itu besarnya dana yang dialokasikan untuk upaya promotif dan preventif sangat terbatas. Pembelanjaan dana pemerintah belum cukup adil untuk mengedepankan upaya kesehatan masyarakat dan bantuan untuk keluarga miskin. Mobilisasi sumber pembiayaan kesehatan dari masyarakat masih terbatas serta bersifat perorangan (out of pocket). Jumlah masyarakat yang memiliki jaminan kesehatan masih terbatas, yakni kurang dari 20% penduduk. Metoda pembayaran kepada penyelenggara pelayanan masih didominasi oleh pembayaran tunai sehingga mendorong penyelenggaraan dan pemakaian pelayanan kesehatan secara berlebihan serta meningkatnya biaya kesehatan. Demikian pula penerapan teknologi canggih dan perubahan pola penyakit sebagai akibat meningkatnya umur harapan hidup akan mendorong meningkatnya biaya kesehatan tidak dapat dihindari. Tingginya angka kesakitan juga berdampak terhadap biaya kesehatan yang pada gilirannya akan memperberat beban ekonomi. Hal ini terkait dengan besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk berobat, serta hilangnya pendapatan akibat tidak bekerja. Sebagai contoh beban dan atau kerugian ekonomi yang diakibatkan penyakit TBC di Indonesia diperkirakan tidak kurang dari Rp 2,5 triliun/tahun.
Sumber Daya Manusia Kesehatan
Sumber daya kesehatan, teritama sumber daya manusia di negara ini masih belum memadai. Terlibih masalah distribusi tenaga kesehatan. Distribusi tenaga kesehatan sampai saat ini belum bisa dikatakan menggembirakan. Sekalipun sejak tahun 1992 telah diterapkan kebijakan penempatan tenaga dokter dan bidan dengan sistem PTT. Tercatat rasio dokter terhadap Puskesmas untuk kawasan Indonesia bagian barat, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah bagian timur. Rasio tenaga dokter terhadap Puskesmas di Provinsi Sumatera Utara = 0,84 dibanding dengan Provinsi NTT = 0,26 dan Provinsi Papua = 0,12. Belum lagi soal tenagar kesehatan para medis lainnya.
Mutu SDM Kesehatan masih membutuhkan pembenahan. Hal ini tercermin dari rendahnya kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Pemberdayaan Masyarakat
Pembangunan kesehatan di Indonesia dilaksanakan dengan pemberdayaan masyarakat. Untuk itu berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat banyak didirikan, antara lain dalam bentuk Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa, serta Pos Upaya Kesehatan Kerja. Sedangkan dalam bidang pembiayaan kesehatan pemberdayaan masyarakat diwujudkan melalui bentuk dana sehat serta berbagai yayasan peduli dan penyandang dana kesehatan seperti yayasan kanker Indonesia, yayasan jantung Indonesia, yayasan thalasemia Indonesia, serta yayasan ginjal Indonesia. Pemberdayaan masyarakat dilaksanakan pula dalam bentuk berbagai gerakan, seperti Koalisi Indonesia Sehat, Gebrak Malaria, Gerdunas TB, Gerakan Sayang Ibu, gerakan anti madat serta gerakan pita putih (kesehatan ibu) dan gerakan pita merah (HIV/AIDS). Sayangnya pemberdayaan masyarakat dalam arti mengembangkan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan tentang kesehatan masih dilaksanakan secara terbatas. Kecuali itu lingkup pemberdayaan masyarakat masih dalam bentuk mobilisasi masyarakat. Sedangkan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelayanan, advokasi kesehatan serta pengawasan sosial dalam program pembangunan kesehatan belum banyak dilaksanakan.
Manajemen Kesehatan
Dalam hal manajemen kesehatan pun dianggap mengecewakan, Inkonsistensi antara pengambilan dan implementasi kebijakan pembangunan kesehatan menjadi salah satu kendala mencapai tujuan pembangunan kesehatan.
Tidak Tercapainya Visi Indonesia Sehat 2010, ketidak jelasanSistem Jaminan Sosial Nasional, dan Sistem Kesehatan Nasional seakan ikut menggambarkan buramnya prospek kesehatan bangsa ini.
Pada sisi lain, desentralisasi pembangunan menyisakan beberapa hal negatif. Disparitas yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain dalam program pembangunan kesehatan, adalah fakta yang sangat jelas menunjukkan tidak tercapainya Visi Indonesia Sehat 2010.
http://www.nasriyadinasir.co.cc/2010/01/potret-pembangunan-kesehatan-indonesia.html
Selasa
BAKSOSNAS HmI Kom. Kedokteran Unhas
BASTRA HmI Kom. Kedokteran UnHas Cabang MakTim Angkatan LXXIX
| Host: | |
| Type: | |
| Start Time: | Friday, December 25, 2009 at 8:30am |
| End Time: | Sunday, December 27, 2009 at 9:00pm |
| Location: | LEC Athirah Antang (Bukit Baruga) |
ORPEHMI (Orientasi Pengenalan HmI)
| Host: | |
| Type: | |
| Network: | Global |
| Date: | Thursday, November 19, 2009 |
| Time: | 4:45pm - 6:00pm |
| Location: | LT5 FKUH |
| | |
Pemateri Oleh dr. Joko Hendarto, DAK&E
Sahur On The Road
Ta'Lim HMI
Safari Ramadhan HmI RAMAI (RAMADHAN BERSAMA HmI)
| Host: | |
| Date: | Friday, August 28, 2009 |
| Time: | 5:00pm - 7:00pm |
| Location: | PASCA SARJANA KESEHATAN UNHAS |
| Street: | Perintis Kemerdekaan KM 10 |
| City/Town: | |
Wajah Baru Kepemimpinan Di FKUH
Ass..
Baru saja Fakultas Kedokteran telah menjalani prosesi pemilihan Dekan dan
Namun apakah strukutur yang ada sekarang sudah dapat mencerminkan aspirasi dan tujuan kita,
memetik tanggapan senior kita akan hal ini "Mungkin Dekan sdh tdk menghitung lagi kekuatan komisariat. . Kalian sdh perlu membuat hitungan2 tersendiri thdp pimp fakultas. Ini serius buat kalian."
Sdh saatnya kita memikirkan lagi akan hal ini, setidaknya ini bisa menjadi acuan dan prioritas utama kita kedepan. Dan ini memang serius buat kita semua...
Salam
Yakin Usaha Sampai
Aslim Taslim
Minggu
Orang-orang yang di doakan malaikat
Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37).
2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)
3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")
12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


